Lima “S” Yang Membunuh Remaja Islam
Assalamualaikum,.Sahabat pada kali ini kita akan membahas tentang "5S" yang merusak bahkan membunuh para remaja islam didunia,.Wah,sadis juga ya keliatannya,.sampe membunuh :D ,.Ya, emank kenyataannya begitu,.membunuh akhlakul karimah remaja islam ,hingga remaja islam didunia bahkan termasuk indonesia sudah "CETAR MEMBAHANA".. wew,.. :D ..hhmm,.inilah tugas musuh-musuh islam yang akan menghancurkan agama islam,.strategi mereka dimulai dengan melencengkan arah perilaku,sifat,tingkah laku bahkan budaya para remaja-remaja islam.Mereka tidak melakukan dengan cara yang kasar seperti perang melawan islam,namun mereka memakai cara yang halus yakni melunakan
hati para remaja-remaja islam supaya tergoda akan nikmatnya dunia,.Mudah-mudahan sahabat IT semua,Tidak termasuk kedalam 5S
tersebut ,.Amiin .Yawudah,.kita lihat aja yuk,.Apa-apa yang termasuk 5S Tersebut , Check It Out ^_^
1). Song (lagu).
Rasanya tidak ada dari remaja yang tidak dekat dengan hal ini. Setiap remaja dipastikan menyukai satu jenis musik tertentu. Yang tengah ngetop saat ini adalah grup musik Noah, Smash atau 1 Direction. Musik atau lagu bisa jadi dijadikan sebagai ungkapan gejolak perasaan dan jiwa remaja—remaja merasa terwakili olehnya. Padahal sesuatu yang ada dibalik lagu-lagu yang ada dan atau tengah beredar banyak menabrak tembok-tembok aqidah. Misalnya saja lagu Imagine-John Lennon, yang mengajarkan untuk hidup tanpa Tuhan, gila apa? Dan semua lagu cinta yang ada sekarang selalu menunjukkan “penghambaan” yang mendalam terhadap lawan jenis.
2). Sport (olahraga).
Tidak pelak lagi kalau olahraga telah menjadi suatu budaya global yang merasuk ke semua pelosok. Olah raga sudah dibuat jadi semacam ritual dan modernitas bagi anak-anak muda, dan para atlet adalah nabi-nabinya. Sekarang, seorang atlet sepakbola sudah tidak ada ubahnya dengan artis yang juga banyak digilai oleh para remaja. Nama-nama atlet seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau petenis Novak Djokovic, dan pembalap Jorge Lorenzo bahkan diidolai oleh para remaja putri. Tingkat “pemujaan”nya, bahkan sudah ke tahap yang sangat pribadi. Sedangkan orang yang dikagumi itu nyata-nyata jelas Yahudi atau Kristen.
3). Smoke (Rokok).
Ini mungkin banyak yang melanda remaja kaum Adam. Tahu kan, ada semacam aturan tertulis dalam pergaulan anak muda bahwa merokok bakalan bisa menaikan “derajat” dan “status sosial” seorang remaja di antara teman-temannya. Aturan yang kebablasan. Nah, yang bersangkutan tampaknya ngerasa cool saja ketika bisa melakukannya. Padahal jika kita lihat dari segi manfaat dan ruginya, merokok bagi siapapun lebih banyak ruginya. Selain mencemari dan meracuni lingkungan, orang lain, dan diri sendiri, ditambah hampir pasti remaja masih bergantung kepada orang tua dalam hal ini buat beli rokok. Alangkah mubazirnya setiap receh yang dicari dengan susah payah oleh orang tuanya, kemudian dibelanjakan atau dipergunakan untuk membeli sesuatu yang benar-benar tidak ada manfaatnya sama sekali.
4). Style (Busana)
Remaja hampir selalu saja pasti ingin kelihatan gaya. Istilah kerennya banci tampil. Artinya, sudah bukan rahasia lagi kalau remaja benar-benar tergila-gila oleh barang-barang yang bermerek dan harganya mahal. Dunia fesyen mengajarkan remaja untuk jadi konsumtif dalam menggunakan uang. Remaja akan merasa cekak atau bokek manakala pergi ke pusat pertokoan dengan hanya bermodal Rp. 50.000 aja, tapi ironisnya jumlah uang itu bagi mereka dirasakan terlampau besar jika harus diinfaqkan untuk kegiatan Islam.
Kita tentu tahu bahwa pangsa pasar Internasional untuk remaja di Indonesia termasuk besar sekali—bahkan cukup besar untuk ukuran negara-negara Asia lainnya. Saat ini di Indonesia tercatat ada sekitar 40 juta remaja. Jika hanya setengahnya saja menjadi korban mode, berapa keuntungan yang bisa dikeruk oleh para produsen pakaian?
Masalahnya dalam hal ini tidak cukup sampai di situ. Saat ini kita melihat dimana-mana bahwa perkembangan mode benar-benar sudah menabrak nilai- nilai Islam. Dari gaya rambut saja sekarang beneran macem-mcem. Mulai dari gaya rambut Firman yang terkenal yang muntir-muntir kayak ekor ayam. Sampai model kriting panjang a la atau Giring-Nidji. Terus, coba lihat remaja-remaja perempuan yang berpakaian sangat ketat, bahkan bisa juga memakai celana pendek, baju yang you can see (tidak ada lengannya), hingga—maaf— pakaian dalamnya bisa kelihatan. Astagfirullah!
5). Seks.
Seks adalah menu paling akhir yang disajikan oleh mereka yang berminat menghancurkan remaja Islam. Kita tentu tahu sekali bahwa salah satu misi bangsa Yahudi dalam Protocols of Zion adalah membuat pemuda dan remaja Islam dekat dengan pornografi. “Ketika seorang remaja Islam mati kelak,” begitu tulisnya kira-kira, “kita bakalan membuat mereka tengah mengantongi buku porno, bukannya Alquran.” Sudah dapat dipastikan bahwa generasi muda bangsa ini tengah berada di ambang kehancuran moral yang sangat dahsyat.
Selasa, 26 November 2013
HUKUM ISLAM TENTANG MENGIDOLAKAN ORANG NON MUSLIM
Sudah menjadi watak manusia, mengagumi, mengidolakan, bahkan meniru orang-orang yang terkenal atau orang-orang yang kebesarannya telah masyhur. Misalnya pesepak bola, penyanyi, pesulap, atau yang lainnya. Hal itu merupakan fakta yang sudah bisa kita lihat sendiri sekarang. Puluhan ribu pasang mata rela berdesak-desakan demi melihat aksi individu pemain di rumput hijau, maupun aksi tim kesayangannya dalam sepak bola. Begitu pula, bagi penyanyi kenamaan ataupun bagi pesulap yang handal, setiap kali konser digelar, ribuan penonton selalu datang dan membanjiri lapangan pertunjukan.
Padahal, dari semua yang diidolakan dari berbagai bidang itu, tidak semuanya muslim, ada juga yang beragama non-muslim. Ini misalnya Christiano Ronaldo (pemain sepak bola), Justin Bieber (penyanyi), atau kalau di Indonesia seperti Agnes Monica (penyanyi), juga pesulap Deddy Corbuzier (pesulap), adalah dari kalangan non-muslim.
Nama-nama tersebut, tentu tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin juga sebagian dari kita menjadi penggemar berat atau fans mereka.
Lalu, persoalan yang muncul adalah bagaimana hukumnya ngefans terhadap orang-orang tadi, padahal mereka adalah non-muslim?
Memang, hidup di dunia ini telah dilingkupi dengan banyak kenikmatan yang dapat melalaikan dan mengaburkan. Dalam al-Qur’an disebutkan:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran, 14)
Tentang pergaulan dengan orang kafir telah disebutkan dalam ayat berikut:
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (al-Mumtahanah, 1)
Dalam kitab kuning, fans ditekstualkan dengan kata mahabbah atau mawaddah. Kedua kata itu mutaradif (sinonim). Sedangkan lawan katanya adalah bughdlu (benci). Sedangkan pengertian mahabbah (cinta) sangatlah banyak lantaran banyaknya pendapat para tokoh. Kita cuplik satu saja yaitu pendapat dari al-Ghazali, cinta adalah kecenderungan alami terhadap sesuatu yang melezatkan. (Mukhtashor Ihya’ Ulumud Din, 235)
Mahabbah itu ada dua. Yaitu, mahabbah diniy yaitu mahabbah yang didasari faktor agama, seperti mahabbah pada Allah, Rasul-Nya, dan sesama mukmin. Kedua, mahabbah thobi’iy yaitu kecintaan yang timbul karena hal itu sudah menjadi watak/tabiat manusia, seperti kecintaan pada istri, anak, kerabat, dan harta. Kadang, kecintaan secara tabiat juga disertai kebencian secara agama (cinta tapi benci). Seperti cinta seorang muslim kepada orang tuanya yang musyrik. Dari satu sisi (tabiat), dia pasti cinta kepada orang tuanya. Tapi dari sisi lain (agama), dia benci karena menentang Allah. Rasulullah pun demikian, Beliau cinta kepada pamannya (Abu Thalib) karena kerabat, padahal pamannya itu kafir. Dalam al-Qur’an:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (al-Qashash, 56)
Begitu pula sebaliknya, kadang ada juga kecintaan secara agama disertai dengan kebencian secara tabiat, seperti jihad. Secara tabiat, pastilah orang akan benci dengan peperangan. Tapi secara agama tidak seperti itu. (Ijabatus Syaikh Abdur Rahman al-Barrak, I, 40)
Kembali ke pokok persoalan, menurut pandangan fiqh, hukum mencintai dengan kecondongan hati terhadap orang-orang non-muslim adalah haram walaupun bukan karena kafirnya. Adapun hukum berkumpul bersama orang kafir secara lahiriyyah, hukumnya makruh selama tidak diharapkan keislamannya, atau karena kerabat, atau tetangga. Jika karena diharapkan keislamannya, tetangga, atau kerabat, maka hukumnya boleh. Hukum ini sama persis dengan hukum mencintai orang-orang fasik (fussaq). Haram jika tidak karena kerabat atau tetangga. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)
Tapi ada ulama lain yang berpendapat berbeda. Jika cintanya karena kekafirannya, maka haram hukumnya. Sedangkan jika mencintainya bukan karena kekafirannya, entah karena karya, prestasi, atau skillnya, maka makruh. Juga diperbolehkan mahabbah karena mengharapkan keislamannya, walaupun memang kita hanya bisa berharap saja, karena petunjuk hanyalah milik Allah semata. (Hasyiyatul Qolyubi, IV, 237)
Orang yang kagum terhadap seseorang, biasanya akan meniru orang yang dikagumi tersebut. Inilah dampak dari kekaguman itu. Buntutnya, jika rasa kagum itu sampai membuat kita meniru dalam hal yang haram, maka hukumnya pun haram. Begitu pun sebaliknya, jika kita menirunya dalam hal positif maka boleh-boleh saja. Hal ini berdasarkan hadits yang sudah akrab di telinga kita:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam kaum itu. (Sunan Abi Dawud, XI, 48)
Lalu bagaimana jika hanya teman?
Seperti yang dipaparkan di atas, berteman (berkumpul secara lahiriyyah) dengan orang-orang kafir hukumnya makruh. Dan jika orang kafir tersebut adalah tetangga, kerabat, atau orang yang diharapkan keislamannya, maka boleh. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)
Kesimpulannya, silahkan ngefans terhadap siapapun atau bahkan apapun sesuka Anda, tetapi tentunya dengan batasan-batasan yang tadi telah diutarakan.
Yang harus kita ingat adalah dalam hidup ini semua manusia pastilah memiliki pedoman hidup. Dan salah satu pedoman hidup kita adalah Islam yang menjadi agama kita. Dan dalam Islam pun sudah ada makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dan paling pantas untuk dikagumi bahkan dicintai oleh seluruh umat manusia, karena dialah utusan Allah yang paling mulia, pembawa pencerahan dan cahaya Islam. Siapakah itu? Pembaca pastilah bisa menjawabnya sendiri
Padahal, dari semua yang diidolakan dari berbagai bidang itu, tidak semuanya muslim, ada juga yang beragama non-muslim. Ini misalnya Christiano Ronaldo (pemain sepak bola), Justin Bieber (penyanyi), atau kalau di Indonesia seperti Agnes Monica (penyanyi), juga pesulap Deddy Corbuzier (pesulap), adalah dari kalangan non-muslim.
Nama-nama tersebut, tentu tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin juga sebagian dari kita menjadi penggemar berat atau fans mereka.
Lalu, persoalan yang muncul adalah bagaimana hukumnya ngefans terhadap orang-orang tadi, padahal mereka adalah non-muslim?
Memang, hidup di dunia ini telah dilingkupi dengan banyak kenikmatan yang dapat melalaikan dan mengaburkan. Dalam al-Qur’an disebutkan:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran, 14)
Tentang pergaulan dengan orang kafir telah disebutkan dalam ayat berikut:
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوى وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (al-Mumtahanah, 1)
Dalam kitab kuning, fans ditekstualkan dengan kata mahabbah atau mawaddah. Kedua kata itu mutaradif (sinonim). Sedangkan lawan katanya adalah bughdlu (benci). Sedangkan pengertian mahabbah (cinta) sangatlah banyak lantaran banyaknya pendapat para tokoh. Kita cuplik satu saja yaitu pendapat dari al-Ghazali, cinta adalah kecenderungan alami terhadap sesuatu yang melezatkan. (Mukhtashor Ihya’ Ulumud Din, 235)
Mahabbah itu ada dua. Yaitu, mahabbah diniy yaitu mahabbah yang didasari faktor agama, seperti mahabbah pada Allah, Rasul-Nya, dan sesama mukmin. Kedua, mahabbah thobi’iy yaitu kecintaan yang timbul karena hal itu sudah menjadi watak/tabiat manusia, seperti kecintaan pada istri, anak, kerabat, dan harta. Kadang, kecintaan secara tabiat juga disertai kebencian secara agama (cinta tapi benci). Seperti cinta seorang muslim kepada orang tuanya yang musyrik. Dari satu sisi (tabiat), dia pasti cinta kepada orang tuanya. Tapi dari sisi lain (agama), dia benci karena menentang Allah. Rasulullah pun demikian, Beliau cinta kepada pamannya (Abu Thalib) karena kerabat, padahal pamannya itu kafir. Dalam al-Qur’an:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (al-Qashash, 56)
Begitu pula sebaliknya, kadang ada juga kecintaan secara agama disertai dengan kebencian secara tabiat, seperti jihad. Secara tabiat, pastilah orang akan benci dengan peperangan. Tapi secara agama tidak seperti itu. (Ijabatus Syaikh Abdur Rahman al-Barrak, I, 40)
Kembali ke pokok persoalan, menurut pandangan fiqh, hukum mencintai dengan kecondongan hati terhadap orang-orang non-muslim adalah haram walaupun bukan karena kafirnya. Adapun hukum berkumpul bersama orang kafir secara lahiriyyah, hukumnya makruh selama tidak diharapkan keislamannya, atau karena kerabat, atau tetangga. Jika karena diharapkan keislamannya, tetangga, atau kerabat, maka hukumnya boleh. Hukum ini sama persis dengan hukum mencintai orang-orang fasik (fussaq). Haram jika tidak karena kerabat atau tetangga. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)
Tapi ada ulama lain yang berpendapat berbeda. Jika cintanya karena kekafirannya, maka haram hukumnya. Sedangkan jika mencintainya bukan karena kekafirannya, entah karena karya, prestasi, atau skillnya, maka makruh. Juga diperbolehkan mahabbah karena mengharapkan keislamannya, walaupun memang kita hanya bisa berharap saja, karena petunjuk hanyalah milik Allah semata. (Hasyiyatul Qolyubi, IV, 237)
Orang yang kagum terhadap seseorang, biasanya akan meniru orang yang dikagumi tersebut. Inilah dampak dari kekaguman itu. Buntutnya, jika rasa kagum itu sampai membuat kita meniru dalam hal yang haram, maka hukumnya pun haram. Begitu pun sebaliknya, jika kita menirunya dalam hal positif maka boleh-boleh saja. Hal ini berdasarkan hadits yang sudah akrab di telinga kita:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam kaum itu. (Sunan Abi Dawud, XI, 48)
Lalu bagaimana jika hanya teman?
Seperti yang dipaparkan di atas, berteman (berkumpul secara lahiriyyah) dengan orang-orang kafir hukumnya makruh. Dan jika orang kafir tersebut adalah tetangga, kerabat, atau orang yang diharapkan keislamannya, maka boleh. (Hasyiyatul Bujairimi ‘Alal Khatib, XIII, 81)
Kesimpulannya, silahkan ngefans terhadap siapapun atau bahkan apapun sesuka Anda, tetapi tentunya dengan batasan-batasan yang tadi telah diutarakan.
Yang harus kita ingat adalah dalam hidup ini semua manusia pastilah memiliki pedoman hidup. Dan salah satu pedoman hidup kita adalah Islam yang menjadi agama kita. Dan dalam Islam pun sudah ada makhluk Allah yang diciptakan dengan sempurna dan paling pantas untuk dikagumi bahkan dicintai oleh seluruh umat manusia, karena dialah utusan Allah yang paling mulia, pembawa pencerahan dan cahaya Islam. Siapakah itu? Pembaca pastilah bisa menjawabnya sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)